Respons Intelektual Muslim Terhadap Perilaku Radikalisme dan Idiologi Terorisme

  • Erwin Notanubun
Keywords: Respons, Intelektual, Radikalisme, Idiologi, Terorisme

Abstract

Ibarat tanaman, terorisme di Indonesia telah menjejma sebagai tanaman yang tumbuh subur. Patah tumbuh, hilang berganti. Setelah Dr. Azhari tertembak mati, masih ada Noordin M.Top Setelah Noordin M. Top tewas dalam baku tembak di Solo, kini masih ada "pengantin-pengantin" (calon pelaku pengebom bunuh diri) lain yang masih menghirup udara bebas. Tidak ada jaminan langkah mereka terhenti. Sebab itu, semua pihak menghimbau agar pemerintah dan masyarakat tidak lengah dengan tumbuh-suburnya terorisme. Terorisme bukan persoalan pelaku. Terorisme lebih terkait pada keyakinan teologis. Artinya, pelakunya bisa ditangkap, bahkan dibunuh, tetapi keyakinannya tidak mudah untuk ditaklukan. Sejarah membuktikan, usia keyakinan tersebut seumur usia agama itu sendiri. Pada zaman Nabi (Muhammad SAW) ada kelompok-kelompok yang taat beribadah, tetapi gemar melaksanakan aksi kekerasan, seperti yang dilakukan khawarij. Kini, di zaman modern ini, muncul Wahabisme yang juga menawarkan ketaatan agama di satu sisi dan kekerasan di sisi lain. Islam tidak memulai serangan terhadap orang yang tidak memerangi terlebih dahulu, yang duluan melakukan penyerangan itupun harus ada negosiasi terlebih dahulu, hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an  surat at-taubah ayat 29, merupakan bentuk devensif bukan untuk ofensif, yakni kalau dalam keadaan terancam karena mau diserang musuh, dan terpaksa untuk mempertahankan kehidupan dari ancaman

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Abdul Wahid, Kejahatan Terorisme Perpektif Agama, Ham dan Hukum (Bandung: PT Refika Aditama, 2004)
[2] Muhammad Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi, Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002): 30. http://id.wikipedia.org/wiki/definisiterorisme,18 Juni 2011.
[3] A.M. Hendropriyono, Terorisme Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam, (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2009)
[4] Anonim, 2011. Kolonel Inf. Loudewijk F Paulus, Kopassus; http://buletinlitbang.dephan.go.id/ index.asp?vnomor=8&mnorutisH2, 15 Juni 2011.
[5] Hasyim Muzadi, Islam, Tak Hanya Rahmatan lil Muslimin dalam Alwi Shihab, Islam dan Kebinekaan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Uatama, 2019)
[6] Indriyanto Seno Adji, "Terorisme, Perpu No. l tahun 2002 dalam Perspektif Hukum Pidana" dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001)
[7] Muhammad Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami, Keragaman Itu Rahmat, (Tanggerang: Lentera Hati, 2018)
[8] Muhammad Tholha Hasan dalam Alwi Shihab, Islam dan Kebinekaan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Uatama, 2019.
[9] Notanubun Erwin, Respon Sarjana Muslim Indonesia Terhadap Penafsiran Kelompok Teroris Tentang Ayat-Ayat Jihad, Studi atas Pandangan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta. 2011
[10] Walter Laqueur, New Terrorism: Fanatisme & Senjata Pemusnah Massal, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hal. 7.
[11] Loebby Loqman, Analisis Hukum dan Perundang-Undangan Kejahatan terhadap Keamanan Negara di Indonesia, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1990), hal. 98. Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Definisi terorisme, 18 Juni 2011.
Published
2020-06-30
How to Cite
NotanubunE. (2020). Respons Intelektual Muslim Terhadap Perilaku Radikalisme dan Idiologi Terorisme. Jar-Juir Jargaria (3J), 1(01), 50-54. Retrieved from https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/jarjuirjargaria/article/view/2164