SOLIDARITAS SOSIAL MASYARAKAT NEGERI SEAKASALE DAN SUKARAJA DI KECAMATAN TANIWEL TIMUR KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT

  • Dominggus E. B. Saija Program Studi Sosiologi FISIP UNPATTI
  • Chrisna E. Ahiyate Program Studi Sosiologi Pascasarjana Universitas Pattimura
Keywords: Kemajemukan, tradisi, solidaritas sosial, Seakasale dan Sukaraja

Abstract

Kemajemukan suatu masyarakat merupakan kelaziman yang seringkali dijumpai, dimana perbedaan-perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan bukanlah suatu hal yang baru. Kemajemukan tersebut juga dilandasi oleh nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga mereka dapat tetap hidup berdampingan dan saling menghormati serta tolong-menolong antara satu dengan yang lain. Realitas objektif tersebut sebagaimana yang juga tampak pada masyarakat Seakasale dan Sukaraja. Masyarakat Seakasale dan Sukaraja merupakan dua kelompok masyarakat yang hidup berdampingan sejak dahulu. Kedua kelompok masyarakat ini, baik Seakasale maupun Sukaraja memliki tradisi hidup yang diwariskan oleh para leluhur mereka. Tradisi saling menghormati, saling menghargai dan saling tolong menolong telah dilakukan oleh para leluhur mereka sejak dahulu dan hingga sekarang masih terus dilestarikan. Walaupun kedua kelompok masyarakat ini berbeda dalam keyakinan, yakni masyarakat Seakasale mayoritas merupakan pemeluk agama Kristen Protestan sedangkan masyarakat Sukaraja mayoritas merupakan pemeluk agama Islam tetapi tidak menjadi penghalang untuk mereka menjalin kehidupan yang harmonis. Tradisi saling tolong menolong, saling menghormati, dan menghargai serta kunjung mengunjungi bahkan hubungan kawin mawin telah menjadi landasan yang kokoh untuk termanifestasinya solidaritas sosial antara kedua kelompok masyarakat tersebut. Solidaritas sosial yang begitu kuat telah mampu menghindari dan bahkan mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan bersama sebagai dua negeri bertetangga serta harmonis dalam persaudaraan yang rukun.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Durkheim, Emile, (1965), ”The Elementary Forms of The Religious Life”, A Division of Simon & Schuster Inc, New York.

Lawang Robert, M.Z, 2005, “Kapital Sosial”, Dalam Perspektif Sosiologik Suatu Pengantar, FISIP UI PRESS, Jakarta.

Lubis, M. Solly, (1990),”Ilmu Negara”, Bandar Maju, Bandung.

Miles, Matthew B. & A. Michael Huberman, (2007), “Analisis Data Kualitatif”, Buku Sumber Tentang Metode-metode Baru, Cetakan 1, UI-Press, Jakarta.

Moleong J. Lexy, (2007),“Metodologi Penelitian kualitatif”, Remaja Rosdakarya, Jakarta.

Nasikun,(2009). “Struktur masyarakat majemuk Indonesia”, Jogjakarta, Grafiti Perss.

Johnson Doyle Paul terj. Robert M. Z. Lawang, (1986), “Teori Sosiologi Klasik dan Modern”, PT. Gramedia, Jakarta.

Pariela, T. D. (2008), “Damai di Tengah Konflik Maluku”, Preserved Social Capital sebagai Basis Survival Strategy, Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Pariela, T. D. (2009), “Plural Social Capital”, Sumberdaya Sosial Sebagai Basis Pembangunan Nasional, Materi Pidato Pengukuhan Guru Besar Dalam Bidang Sosiologi Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pattimura-Ambon.

Poerwanto Hari, (2008), “Kebudayaan dan Lingkungan”, Dalam Perspektif Antropologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Pruitt, Dean G. dan Rubbin Jeffry Z, (2004),“Teori Konflik Sosial”,Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Rahardjo Turnomo, (2003),“Menghargai Perbedaan Kultural, Mindfilness Dalam Komunikasi Antar Etnis”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Raho Bernard, SVD, (2007), “Teori Sosiologi Modern”, Prestasi Pustakaraya, Jakarta.

Ritzer George – Douglas J. Goodman, 2003, “Modern Sociological theory, 6th Edition, McGraw Hill.

Santosa Slamet, (2009), “Dinamika Kelompok”, Bumi Aksara, Cetakan Ketiga, Jakarta.

Soumokil, T. 2011, “Reintegrasi Sosial Pasca Konflik Maluku”, Disertasi Doktoral, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Suparlan Parsudi, (2004), “Hubungan Antar Suku Bangsa”, KIK Press, Jakarta.

Published
2023-01-27