EFEKTIVITAS INFUSA DAUN KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL MALARIA

  • Martha Kaihena Universitas Pattimura
  • Efraim Samson Universitas Pattimura
Keywords: Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.), Infusa, Flavonoid, Plasmodium berghei, Parasitemia

Abstract

Kecipir merupakan salah satu jenis tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas infusa daun kecipir (Psophocarpus tetragonolobus(L.)DC) terhadap tikus putih (Rattus norvegicus) model malaria. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan dan 3 ulangan yang terdiri dari kelompok kontrol tanpa diberi infusa (P1), kelompok yang diberi infusa konsentrasi: 31,25 mg/mL (P2), 62.5 mg/mL(P3), dan 125 mg/mL (P4). Penelitian ini menggunakan 20 ekor tikus jantan, dimana5 ekor diantaranya sebagai tikus donor.Tikus donordiinfeksi Plasmodium bergheidan dibiarkan sampai persen parasitemia mencapai >20%. Kemudian 4 kelompok tikus model diinfeksikan dengan Plasmodium berghei. Pengamatan dilakukan selama 7 hari, mulai hari ke-0 (sebelum perlakuan), 4 hari selama perlakuan dan 2 hari setelah perlakuan. Persen parasitemia dihitung mulai dari hari sebelum pemberian infusa daun kecipir (IDK) sampai hari ke-7. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa IDK dapat menghambat pertumbuhan parasit dengan cara menurunkan tingkat parasitemia seiring dengan peningkatan konsentrasi, yakni (P2) sebesar 73,78%; (P3) sebesar 89,33%; dan (P4) sebesar 93.69%. Dapat disimpulkan bahwa IDK berpotensi dalam menghambat pertumbuhan Plasmodium berghei tikus putih model malaria dengan konsentrasi efektif yaitu 31,25 mg/mL.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Hutapea, J. R. (2009). Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Jilid III, Departemen Kesehatan RI dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 29-30.

Harijanto, P. N. (2000). Malaria: epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis, dan penanganan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Thomas, V., & Baharom, N. (1983). Parasitologi Perubatan. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

WHO. Global Technical Strategy For Malaria 2016-2030 [Online].

Hasyimi, M., Waris, L., Senewe, F. P., & Uniplaita, Y. E. O. (2015). Tahapan Eliminasi Malaria Di Kabupaten Kepulauan Aru Provinsi Maluku, Tahun 2014. Indonesian Journal of Health Ecology, 14(2), 116-123.

Ditjen PP & PL, (2009). Kejadian Malaria di Indonesia. Buletin Malaria. Depkes RI.

Fathiyah, W. (2013). Kasus Malaria di Indonesia Masih Tinggi. VOA Indonesia. Tersedia pada : m.voa indonesia.com.

Balitbangkes. Laporan Riskesdas.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia [Online].

Olliaro PL and Bloland PB. Clinical and public health implications of antimalarial drug resistance. InAntimalarial Chemotherapy: Mechanisms of Action, Resistance, and New Directions in Drug Discovery (ed. P. J. Rosenthal) Totowa, NJ: Humana Press. 2001; 65-83.

Simamora, D., & Fitri, L. E. (2013). Resistensi Obat Malaria: Mekanisme dan Peran Obat Kombinasi Obat Antimalaria Untuk Mencegah. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 23(2), 82-91.

Burke, E., Deasy, J., Hasson, R., McCormack, R., Randhawa, V., & Walsh, P. (2003). Antimalarial drugs from nature. Trinity Student Medical Journal, 4, 1-9.

Widyawaruyanti, A., Zaini, N. C., & Syafrudin, M. (2011). Aktivitas Antimalaria dari Senyawa Flavonoid yang Diisolasi dari Cempedak(Artocarpus Champeden). JBP, 13(2), 67-77.

M. A. Wijayantl, E. Herdiana, and S. Y. Mardihusodo, "Efek Bee Propolis terhadap Infeksi Plasmodium berghei pada Mencit Swiss," Berkala Ilmu Kedokteran, Vol. 35, 2003.

Handayani, T. (2013). Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) Potensi Lokal yang Terpinggirkan. Balai Penelitian Tanaman Sayur. Bandung.

Hanum, I. F., & Maesen, L. J. G. (1997). Plant resources of South-East Asia (Vol. 11). Backhuys Publ..

Nurmala, N., Lestari, F., & Choesrina, R. (2018). Potensi Ekstrak Buah Kecipir (Psophocarpus Tetragonolobus (L.) Dc.) Sebagai Antiosteoporosis Dengan Parameter Peningkatan Alkalin Fosfatase Pada Tikus Wistar Betina Yang Diinduksi Deksametason. Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa, 1(1), 18-25.

I. Amoo, O. Adebayo, and A. Oyeleye, "Chemical evaluation of winged beans (Psophocarpus Tetragonolobus), Pitanga cherries (Eugenia uniflora) and orchid fruit (Orchid fruit myristic a)", African Journal of Food, Agriculture, Nutrition and Development, vol. 6, 2006.

Dewi, R. M., Jekti, R. P., & Sulaksono, E. (1997). Pengaruh pasase terhadap gejala klinis pada mencit strain Swiss derived yang diinfeksi Plasmodium berghei. Cermin Dunia Kedokteran, 6, 34-6.

Moll, K., Ljungstrom, I., Perlmann, H., Scherf, A., & Wahlgren, M. (2008). Methods in Malaria Research Fifth Edition. Glasgow.

Intan, P. R. (2017). Studi Histopatologi Pasca Pemberian Ekstrak Campuran Kulit Batang Pulai (Alstonia scholaris LR Br.) dan Meniran (Phyllanthus niruri L.) pada mencit terinfeksi Plasmodium berghei. YARSI medical Journal, 25(1), 10-22.

Kabiru, Y. A., Okolie, N. L., Muhammad, H. L., & Ogbadoyi, E. O. (2012). Preliminary studies on the antiplasmodial potential of aqueous and methanol extracts of eucalyptus camadulensis leaf. Asian Pacific Journal of Tropical Disease, 2, S809-S814.

Santoso, S. O. (1993). Perkembangan obat tradisional dalam ilmu kedokteran di Indonesia dan upaya pengembangannya sebagai obat alternatif.

Priangga, D. A. H., Jekti, D. S. D., & Andayani, Y. (2013). Antiplasmodium Activities Of Keluwih (Artocarpus camansi) Methanol Leaf Extracts in The Mencit (Mus Musculus) Balb/C Infected With Plasmodium berghei. Prisma Sains: Jurnal Pengkajian Ilmu dan Pembelajaran Matematika dan IPA IKIP Mataram, 1(2), 166-170.

Parubak, A. S. (2013). Senyawa Flavonoid yang Bersifat Antibakteri dari Akway (Drimys becariana. Gibbs). Chemistry Progress, 6(1).

Wutsqo, L. U., & Budiman, A. (2018). Review Artikel: Aktivitas Antibakteri, Antioksidan, DanAntiinflamasi Murbei Hitam (Morus nigra L.). Farmaka, 16(3).

Waji, R. A., & Sugrani, A. (2009). Flavonoid (Quercetin). Makalah Kimia Organik Bahan Alam. Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin. Makassar.

Feliana, K., Mursiti, S., & Harjono, H. (2018). Isolasi dan Elusidasi Senyawa Flavonoid dari Biji Alpukat (Persea americana Mill.). Indonesian Journal of Chemical Science, 7(2), 153-159.

Subandono, S. (2006). Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dari Daun Ceremai (Phyllanthus acidus [L.] Skeels.) (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).

Dwyana, Z., & Johannes, E. (2010). Uji Efektivitas Ekstrak Kasar Alga Merah Eucheuma Cottonii Sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Patogen. Jurnal kimia.

Bontjura, S., Waworuntu, O. A., Siagian, K. V. (2015). Uji efek antibakteri ekstrak daun leilem (Clerodendrum minahassae l.) terhadap bakteri streptococcus mutans. Pharmacon, 4(4).

Surjowardojo, P., Susilorini, T. E., & Benarivo, V. (2016). Daya hambat dekok kulit apel manalagi (Malus sylvestris Mill) terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Streptococcus agalactiae penyebab mastitis pada sapi perah. TERNAK TROPIKA Journal of Tropical Animal Production, 17(1), 11-21.

Boonphong, S., Baramee, A., Kittakoop, P., & Puangsombat, P. (2007). Antitubercular and Antiplasmodial Prenylated Flavones From the Roots of Artocarpus altilis. Chiang Mai J Sci, 34(3), 339-344.

Hakim, E. H., Adimurti, V., Makmur, L., Achmad, S. A., Mujahidin, D., Syah, Y. M., ... & Takayama, H. (2001). Suatu Senyawa Stilbene Terprenilasi dari Kayu Akar Tumbuhan Artocarpus Altilis. Journal of Mathematical and Fundamental Sciences, 33(3), 75-80.

Nindatu, M. (2008). Efek Antimalaria senyawa Flavonoid kulit batang cempedak (Artocarpus champeden SPRENG) pada Morfologi dan Aktivitas Biokimiawi Parasit Malaria (Doctoral Dissertation, Universitas Airlangga).

Bilia, A. R., Lazari, D., Messori, L., Taglioli, V., Temperini, C., & Vincieri, F. F. (2002). Simple and rapid physico-chemical methods to examine action of antimalarial drugs with hemin: its application to Artemisia annua constituents. Life sciences, 70(7), 769-778.

Andayani, Y., Jekti, D. S. D., & Hakim, A. (2009). Aktivitas anti malaria dan analisis senyawa metabolit sekunder dari ekstrak buah, daun dan kulit batang Artocarpus Camansi. Laporan Penelitian. Mataram: Universitas Mataram.

Gunawan, E., & Simaremare, E. S. (2016). Formulasi Sirup Antimalaria Ekstrak Kulit Batang Kayu Susu (Alstonia scholaris (L.) R. Br.). PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia), 13(1), 1-9.

Septiana, E., Umaroh, A., Gangga, E., & Simanjuntak, P. (2017). Haem polymerization inhibitory activity of Blumea balsamifera leaves extract as antimalarial. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat/Bulletin of Research on Spice and Medicinal Crops, 28(1), 29-36.

Sucilestari, R., & Bachtiar, I. (2013). Triterpenoid Fraction Antimalarial Activity Test from Methanol Extract Made by Leaf Artocarpus camansi Against Plasmodium Berghei by In Vivo. Natural B, 2(2), 196-199.

Pratiwi. (2007). ProteinVitamin Dan BahanPangan. Yogyakarta: GajahMadaUniversity

Press.

Published
2019-03-27
How to Cite
[1]
KaihenaM. and SamsonE., “EFEKTIVITAS INFUSA DAUN KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MODEL MALARIA”, RPBJ, vol. 1, no. 1, pp. 026 - 033, Mar. 2019.
Section
Articles